Luar Biasanya JICT, dari Dirundung Masalah Justru Jadi Terbaik

Image result for jict

Perusahaan mana sih yang tidak pernah mendapat masalah atau hambatan saat melakukan aktivitas usahanya? Setiap perusahaan pasti pernah mengalaminya. Namun tergantung perusahaan tersebut gimana cara menyelesaikannya.

Nah, contoh salah satu perusahaan yang pernah dihantam kendala namun mampu bangkit lagi menuju sukses, bahkan dapat penghargaan bergengsi itu bisa menilik PT Jakarta International Container Terminal (JICT).

Dulu, JICT pernah mengalami penurunan dalam pelayanan bongkar muat peti kemas. Gara-gara para eks karyawannya mogok kerja dengan alasan minta kenaikan gaji. Unjuk rasa itu berkali-kali dan akhirnya produktivitas kerja terganggu.

Padahal, gaji perbulan para pekerjanya mulai dari terkecil Rp 35,9 juta hingga yang tertinggi Rp 132 juta. Bahkan kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan, gaji pegawai JICT terbesar kedua di dunia (sumber: http://www.bisnis.liputan6.com).

Heran ya, kenapa malah aksi mogok kerja?

Sebagai perusahaan bongkar muat peti kemasi tersibuk dan terbesar di Indonesia, JICT punya solusi jitu bakal mengantisipasi aksi mogok kerja itu. JICT menggunakan rencana darurat mengalihkan layanannya ke terminal 3 dan Terminal Peti Kemas Koja (sumber: https://www.merdeka.com).

Tapi untung banget akhirnya dalam unjuk rasa mogok kerja itu, banyak pekerja yang sadar kalo aksinya ditunggangi buat kepentingan tertentu. Alhasil,  banyak pekerja menghentikan aksinya.

Terus dan terus, JICT berbenah diri menciptakan inovasi dan strategi untuk meningkatkan kualias pelayanannya. Terbukti, pada 14 Desember 2017, JICT mendapatkan penghargaan dari ajang BUMN Branding and Marketing Award 2017 yakni Gold Award kategori Creative Competition Strategy.

“Kami tentu bangga dengan penghargaan ini. Selain itu JICT menyadari pentingnya menciptakan strategi bisnis baru yang lebih kreatif namun tetap memperhatikan kebutuhan dan kepuasan pelanggan,” kata Presiden Direktur JICT Gunta Prabawa, Selasa, 19 Desember 2017 _(sumber: http://www.industri.bisnis.com/)_.

Wah salut ya sama JICT yang bisa melalui masalah dan berujung mendapatkan penghargaan. Nggak salah kalau JICT jadi perusahaan layanan bongkar muat peti kemas terbaik di Indonesia.*

Advertisements

Persiapan DO Online, JICT Gelar Workshop dengan Perusahaan Pelayaran, TPS dan TPP

Di tahun 2018 ini disaat bisnis atau pelaku usaha diwajibkan menerapkan sistem online berbasis digital, saat ini sesuai amanah PM 120/2017 yang mewajibkan pelaksanaan Delivery Order (DO) Online diseluruh Badan Usaha Pelabuhan (BUP) di Indonesia dan untuk memantapkan hal itu Terminal Petikemas JICT sudah menggelar workshop dengan perusahaan pelayaran, Tempat Penimbunan Sementara (TPS) dan Tempat Penimbunan Pabean (TPP).

Wakil Dirut JICT Riza Erivan mengatakan perusahaan pelayaran/agen yang belum mengikuti pelatihan atau belum online kita ikutkan dalam workshop di Sentul, Bogor selama dua hari.

“DO Online terdiri atas dua bagian yaitu antara Terminal Petikemas seperti JICT dan Shipping Line sudah siap melaksanakan DO Online saat diwajibkan 6 bulan mendatang,” tuturnya, Selasa (13/2/2018).

Sementara DO Online antara cargo owner (consignee) dan perusahaan pelayaran masih banyak belum online tapi itu sebenarnya bukan tanggung jawab terminal, kata Riza Erivan.

Namun, tambah Riza, JICT sedang mempersiapkan system untuk membantu DO online antara shipping line dengan consignee.

” Saya dengar anak perusahaan Pelindo II ILCS juga membuat system ini cuma saya gak tau sampai di mana progresnya,” ujar Riza.

Dalam PM 120/2017 tentang DO Online yang diterbitkan 28 Desember 2017 disebutkan penerapan DO Online untuk kelancaran arus barang dan menurunkan biaya logistik.

Pada pasal 3 (1) disebutkan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) selaku pengelola terminal, perusahaan angkutan laut, perusahaan jasa pengurusan transportasi/wakil pemilik barang wajib menerapkan sistem DO Online untuk barang impor.

Selanjutnya pada Pasal 3 (4) ditegaskan BUP, perusahaan angkutan laut, perusahaan jasa pengurusan transportasi/wakil pemilik barang yang tidak menerapkan pelayanan DO Online akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan perundang undangan. >>SUMBER<<

Jangan Engkau Ragukan Komitmen JICT Soal K3

Keselamatan dan kesehatan kerja itu penting banget dalam sebuah aktivitas usaha perusahaan. Apalagi sekelas PT Jakarta Intenational Container Terminal (JICT) yang merupakan pelabuhan bongkar muat peti kemas tersibuk dan terbesar di Indonesia.

Khan begini, kalau semua pegawai di sebuah perusahaan, seperti JICT, banyak yang nggak sehat, sakit, cacat, luka-luka, gara-gara kecelakaan kerja, nah terus bagaimana bisa beroperasi? Justru yang ada rugi hingga bangkrut sebab nggak ada target kerja untuk menghasilkan keuntungan bisa dicapai. Mandeg produktivitas buat mencari keuntungan perusahaan dan pekerja.

Itu juga yang mendasari JICT menjunjung prinsip keselamatan dan kesehatan kerja supaya zero accident. Istilah dikenalnya K3. Soal K3 ini diatur jelas lho dalam UU Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, UU Nomot 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan serta UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dan: JICT terbukti mematuhi regulasi itu dengan mengutamakan K3.

“Saya himbau safety itu harus ada di dalam hati, darah dan jiwa seluruh pekerja JICT,” ujar Direktur Utama JICT Gunta Prabawa (sumber: https://www.ekbis.sindonews.com).

Jadi begini, untuk JICT beraktivitas dalam satu visi buat melakukan kinerja terbaik tanpa kecelakaan dapat tercapai. Istilah yang selalu ditekankan ke pegawainya think safety.

Oya, komitmen JICT soal K3 serius lho. Menyambut bulan keselamatan dan kesehatan kerja yang ditetapkan setiap 12 Januari, JICT meluncurkan program Best Performance With Zero Accident, dalam acara apel pagi pada 7 Februari 2018.

JICT pingin menghadirkan inisiatif dari seluruh elemen perusahaan agar selalu memprioritaskan aspek keselamaan dalam setiap pekerjanya. Jadi, JICT bukan cuma mikirin K3 di perusahaan sendiri. Tapi juga semua perusahaan diajak jangan abai sama K3 pekerjanya.*

Tataplah JICT, Ada Gaji Tinggi dan Prestasi

WhatsApp Image 2018-02-07 at 16.29.59

Kalau merasa bangga dan bercita-cita bisa bekerja di perusahaan jasa bongkar muat peti kemas sekaliber PT Jakarta International Container Terminal (JICT) rasanya wajar dan beralasan banget deh.

Gimana nggak bangga dan pingin? Udah perhatian serta rasa kepeduliannya besar ke pegawai, terus ditambah lagi sederetan penghargaan.

Bicara soal kesejahteraan pegawai, wih jangan ditanya lagi. Itu bagian prioritas prinsip kerja perusahaan selain memberikan pelayanan yang optimal untuk memuaskan konsumen

Asal tahu ya, gaji pegawainya JICT itu mulai dari level staf sekitar Rp 30 juta sampai Manager Senior di angka Rp 132 juta (sumber: http://www.liputan6.com). Itu setiap bulannya lho.

Rasanya kalau jadi pegawai di JICT dengan gaji segitu, wah bersyukur banget. Tercukupi kebutuhan hidup. Untuk yang sudah berkeluarga juga sepertinya nggak pusing lagi memenuhi nafkah lahir istri serta anaknya.

Pasti bangga dan bergengsi kerja di JICT. Mau bersaing dengan perusahaan jasa bongkar muat peti kemas milik negara lain juga percaya diri dengan nilai gaji sebesar itu. Asal tahu aja, gaji pegawai di JICT itu nomor dua terbesar di Asia (sumber: http://www.merdeka.com). Top banget deh.

Terus dengan gaji pegawai senilai Rp 30-132 juta, maka timbal balik yang bisa diberikan ke perusahaan adalah komitmen untuk semangat bekerja memberikan hasil terbaik sehingga JICT juga merasa bangga punya sumber daya manusia yang berprestasi.

Bukan demonstrasi menuntut ini itu tapi alasannya nggak jelas…

Mau cerita lagi nih soal JICT. Mengenai prestasi, perusahaan jasa bongkar muat peti kemas terbesar di Indonesia ini juga menyandangnya. Jadi, tahun 2017 JICT mendapatkan penghargaan di tingkat Asia dari Asia Freight Logistics and Supply Chain (AFLAS) dan Asia Cargo News.

JICT diganjar penghargaan itu gara-gara dinilai mampu membuktikan performa manajemen JICT yang memiliki tata kelola amat bagus dibandingkan 215 perusahaan pelabuhan lainnya di Asia (sumber:www.beritasatu.com).

Dahsyat banget nggak?

So, nikmat dan kebanggaan apa yang masih mau dipungkiri dari bekerja di JICT?*

ALFI Soroti Efisiensi Layanan & Zero Accident di Terminal Peti Kemas

JAKARTA – Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyoroti komitmen seluruh pengelola terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada efisiensi pelayanan bongkar muat serta memperhatikan faktor keselamatan guna menghindari terjadinya kecelakaan kerja.

Ketua ALFI DKI Jakarta Widijanto mengatakan, komitmen efisiensi layanan di pelabuhan jangan sampai justru mengorbankan faktor keselamatan yang berdampak pada terganggunya layanan jasa kepelabuhanan wajib diimplemtasikan di seluruh fasilitas terminal.

“Mestinya semua manajemen terminal peti kemas di Priok melaksanakan hal ini, dan jangan hanya slogan,” ujarnya kepada Bisnis pada Kamis (8/2/2018).

Widijanto mengemukakan PT Jakarta International Container Terminal (JICT) sebagai operator terminal ekspor impor terbesar di Pelabuhan Priok sudah semestinya memberikan contoh dalam mengedepankan efisiensi layanan dan keselamatan kerja di terminal.

“Selama ini sering kami dengar terjadi kecelakaan kerja di JICT yang menimbulkan korban dari unsur tenaga kerja di terminal itu,” paparnya.

Di Pelabuhan Tanjung Priok terdapat lima fasilitas terminal yang melayani ekspor impor yakni JICT, Terminal Peti Kemas Koja, Terminal Mustika Alam Leatari (MAL), Terminal 3 Priok, dan New Priok Container Terminal-One (NPCT-1).

Dirut PT.JICT Gunta Prabawa mengatakan JICT berkomitmen menjadi pelabuhan peti kemas yang terdepan dalam menjaga keselamatan kerja di lingkungan kerja pelabuhan.

Dia mengatakan hal itu saat meluncurkan program khusus Best Performance With Zero Accident saat apel siaga PT JICT pada Rabu (7/2/2018), sebagai komitmen perseroan itu bebas dari kecelakaan kerja dalam melaksanakan pelayanan kapal dan bongkar muat peti kemas.

Melalui program zero accident, kata Gunta, JICT akan menghadirkan sejumlah inisiatif dari seluruh elemen perusahaan agar aspek safety menjadi pemahaman mendalam setiap individu pekerja.

“Saya imbau safety itu harus ada di dalam hati, darah, dan jiwa seluruh pekerja JICT.Jadi istilah JICT think safety ini untuk memberi konteks bahwa kita ini dalam satu visi sehingga kinerja terbaik tanpa kecelakaan dapat tercapai,” ujar Gunta. >>SUMBER<<

Satu Kata Buat Kepedulian JICT ke Pendidikan: Wow!

okkk.JPG

Ternyata selain fokus pada kualitas kinerja dan pelayanan yang optimal serta memperhatikan kesejahteraan pegawainya, PT Jakarta International Container Terminal (JICT) juga punya kepedulian sosial yang besar lho.

Jadi, bukan mentang-mentang sebagai perusahaan yang memfasiltasi bongkar muat peti kemas, JICT cuek aja sama sekitarnya. Apalagi nih sebagai pelabuhan bongkar muat peti kemas terbesar dan tersibuk di Tanah Air.

(baca:http://nusantara.rmol.co/read/2017/12/12/317871/Satu-Kapal-Baru-Sandar-Di-Pelabuhan-Petikemas-Terbesar-JICT-)

Terus apa buktinya?

Ini lho buktinya; sejak tahun 2009, JICT udah amat peduli sama yang namanya kemajuan pendidikan. JICT membangun rumah belajar bakal anak-anak yang nggak bisa lanjutin sekolahnya. Tempatnya dinamakan Dock School.

Dampaknya, ada sekitar 15 ribu masyarakat di Jakata Utara, terutama anak putus sekolah, yang bisa merasakan manfaat rumah belajar dari JICT (www.ekbis.sindonews.com).

Terus pada tahun 2016, JICT ikut mendorong kemajuan 15 sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jakarta Utara, tepatnya di wilayah Koja, Cilincing dan Tanjung Priok. JICT memberikan bantuan alat peraga edukatif dan kegiatan lainnya seperti story telling serta program pendamping lainnya (sumber: http://www.poskotanews.com).

Sekarang ketahuan deh kalau JICT punya perhatian gede ke sektor pendidikan. Nggak selesai begitu aja, kepedulian JICT pada pendidikan Indonesia terus bergerak. Akhir tahun 2017, JICT kembali memberikan bantuan sarana bermain serta belajar yang lebih lengkap untuk sejumlah PAUD tersebut.

Akhirnya, selain kebutuhan alat pendidikan lengkap, sejumlah PAUD binaan JICT juga didukung fasilitas bermain luar ruangan yang layak dan pembatas kelas menjadi menarik sehingga anak-anak semangat belajar.

Kalau dicermati sih, kepedulian JICT ke sektor pendidikan beralasan jelas banget. Pendidikan khan hak semua warga, setiap orang punya kesempatan yang sama bakal jadi pintar. Dijamin konstitusi lho.

Nah amanat konstitusi itu yang JICT lakukan. Jadi klop banget, udah jaminan layanan ke konsumen memuaskan, pegawai sejahtera, care juga dengan cita-cita dan masa depan anak-anak yang cerah.

Kalau begini, apa masih mau diganggu?*

JICT Luncurkan Program Zero Accident

Dalam rangka bulan keselamatan kerja, Jakarta International Container Terminal (JICT) meluncurkan program khusus Best Performance With Zero Accident. Program keselamatan kerja ini, diluncurkan dalam acara apel pagi serentak, Rabu (7/2).

“Menyambut bulan keselamatan kerja, kami ingin menegaskan posisi untuk menjadi pelabuhan petikemas yang terdepan dalam menjaga keselamatan kerja di lingkungan perusahaan,” ujar Direktur Utama JICT, Gunta Prabawa.

Jajaran manajemen Jakarta International Container Terminal (JICT) meluncurkan program khusus "Best Performance With Zero Accident" yang diluncurkan dalam acara apel pagi serentak, di Jakarta, Rabu (7/2).

Menurutnya, melalui program ini, JICT akan menghadirkan sejumlah inisiatif dari seluruh elemen perusahaan agar aspek keselamatan (safety) menjadi pemahaman mendalam bagi setiap individu pekerja. “Supaya nempel, saya himbau safety itu harus ada di dalam hati, darah dan jiwa seluruh pekerja JICT,” katanya.

Gunta menambahkan, istilah JICT Think Safety ini untuk memberi kontekstual bahwa seluruh pihak berada dalam satu visi. “Sehingga, kinerja terbaik tanpa kecelakaan dapat tercapai,” tambahnya.

Turut hadir dalam acara peluncuran JICT Zero Accident ini antara lain, perwakilan Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Hotman Sijabat dan Kepala Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara (Jakut) Dwi Untoro. >>SUMBER<<