JICT Raih Penghargaan Emas BUMN Branding & Marketing Award

1513640110

Jakarta International Container Terminal (JICT) mendapat penghargaan kategori Creative Competition Strategy pada ajang BUMN Branding & Marketing Award 2017.

Penghargaan ini diinisiasi BUMN Track bekerjasama dengan Rumah Perubahan dan Arbey Consulting. Beberapa BUMN dan anak perusahaannya juga turut mendapatkan penghargaan serupa.

Presiden Direktur PT JICT Gunta Prabawa menyampaikan perusahaan berupaya untuk selalu inovatif dalam menghadapi ketatnya persaingan bisnis pelabuhan.

“Kami tentu bangga dengan penghargaan ini. Selain itu, JICT menyadari pentingnya menciptakan strategi bisnis baru yang lebih kreatif namun tetap memperhatikan kebutuhan dan kepuasan pelanggan,” kata Gunta saat menerima penghargaan di hotel JS Luwansa, Jalan H R Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (14/12) pekan lalu.

JICT meraih penghargaan tertinggi yakni, Gold Award Creative Competition Strategy untuk Anak Perusahaan BUMN. Adapun award diserahkan langsung oleh CEO Arbey Consulting Handito Joewono kepada Gunta.

Dari 103 peserta, 70 perusahaan yang terdiri dari 40 BUMN dan 30 Anak Perusahaannya lolos penjurian tahap kedua untuk wawancara dan pendalaman materi di hadapan dewan juri.

Gunta menegaskan, ke depan JICT akan terus bersinergi dengan beberapa BUMN guna memenuhi ekspektasi pengguna jasa pelabuhan. “Kami harus selalu bersiap diri untuk lebih cermat membaca kebutuhan pasar,” pungkas Gunta.

>>SUMBER<<

Advertisements

Tataplah JICT, Ada Gaji Tinggi dan Prestasi

WhatsApp Image 2018-02-07 at 16.29.59

Kalau merasa bangga dan bercita-cita bisa bekerja di perusahaan jasa bongkar muat peti kemas sekaliber PT Jakarta International Container Terminal (JICT) rasanya wajar dan beralasan banget deh.

Gimana nggak bangga dan pingin? Udah perhatian serta rasa kepeduliannya besar ke pegawai, terus ditambah lagi sederetan penghargaan.

Bicara soal kesejahteraan pegawai, wih jangan ditanya lagi. Itu bagian prioritas prinsip kerja perusahaan selain memberikan pelayanan yang optimal untuk memuaskan konsumen

Asal tahu ya, gaji pegawainya JICT itu mulai dari level staf sekitar Rp 30 juta sampai Manager Senior di angka Rp 132 juta (sumber: http://www.liputan6.com). Itu setiap bulannya lho.

Rasanya kalau jadi pegawai di JICT dengan gaji segitu, wah bersyukur banget. Tercukupi kebutuhan hidup. Untuk yang sudah berkeluarga juga sepertinya nggak pusing lagi memenuhi nafkah lahir istri serta anaknya.

Pasti bangga dan bergengsi kerja di JICT. Mau bersaing dengan perusahaan jasa bongkar muat peti kemas milik negara lain juga percaya diri dengan nilai gaji sebesar itu. Asal tahu aja, gaji pegawai di JICT itu nomor dua terbesar di Asia (sumber: http://www.merdeka.com). Top banget deh.

Terus dengan gaji pegawai senilai Rp 30-132 juta, maka timbal balik yang bisa diberikan ke perusahaan adalah komitmen untuk semangat bekerja memberikan hasil terbaik sehingga JICT juga merasa bangga punya sumber daya manusia yang berprestasi.

Bukan demonstrasi menuntut ini itu tapi alasannya nggak jelas…

Mau cerita lagi nih soal JICT. Mengenai prestasi, perusahaan jasa bongkar muat peti kemas terbesar di Indonesia ini juga menyandangnya. Jadi, tahun 2017 JICT mendapatkan penghargaan di tingkat Asia dari Asia Freight Logistics and Supply Chain (AFLAS) dan Asia Cargo News.

JICT diganjar penghargaan itu gara-gara dinilai mampu membuktikan performa manajemen JICT yang memiliki tata kelola amat bagus dibandingkan 215 perusahaan pelabuhan lainnya di Asia (sumber:www.beritasatu.com).

Dahsyat banget nggak?

So, nikmat dan kebanggaan apa yang masih mau dipungkiri dari bekerja di JICT?*

JICT Optimistis Kualitas Layanan Akan Meningkat di 2018

11
PT Jakarta International Container Terminal (JICT) optimis pelayanan kegiatan bongkar muat dan arus barang di terminal petikemas terbesar di Indonesia ini akan terus meningkat di tahun 2018.
Sebagai langkah strategis, mulai 1 Januari 2018 JICT akan mulai menggunakan jasa PT Multi Tally Indonesi (MTI) sebagai suplier RTGC (Rubber Tired Gantry Crane) menggantikan PT Empco Trans Logistik (Empco) yang telah habis masa kontraknya pada akhir 2017.
Wakil Direktur Utama JICT Riza Erivan menegaskan, penggantian suplier RTGC adalah bagian dari evaluasi yang dilakukan direksi dan manajemen terhadap kinerja perusahaan. Langkah ini juga dilakukan untuk menjamin tingkat dan kualitas pelayanan JICT terus meningkat setiap tahun.
“Kompetisi antar operator terminal di pelabuhan Tanjung Priok semakin ketat. Perubahan vendor RTGC hanya bagian dari berbagai upaya perbaikan yang terus dilakukan JICT agar tetap kompetitif dan menjadi leader di industri ini di Indonesia,” tegas Riza di Jakarta, Rabu (27/12).
PT JICT telah menetapkan PT MTI sebagai suplier RTGC setelah melalui proses tender secara terbuka, transparan dan sesuai standar kerja di JICT.
Riza menambahkan, status MTI sama seperti halnya PT Empco, yaitu sebagai vendor pihak ketiga. Sehingga JICT tidak memiliki wewenang dan tanggungjawab terhadap perusahaan tersebut.
Penegasan Riza ini sekaligus menanggapi tuduhan  bahwa JICT telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para karyawan PT Empco.
Menurut Riza, JICT tidak memiliki hubungan ketenagakerjaan langsung dengan para karyawan PT Empco. Jadi apabila para karyawan PT Empco menghadapi masalah, hal ini merupakan persoalan internal yang harus diselesaikan oleh perusahaan bersangkutan.
“Kami selalu taat dan patuh terhadap setiap ketentuan yang berlaku di Indonesia. Kami tidak mungkin ikut campur terhadap masalah di perusahaan lain,” ujarnya.
Riza mengatakan, bagi para karyawan PT Empco yang ingin bekerja kembali di JICT mereka bisa mengajukan lamaran kerja ke PT MTI. Perusahaan tersebut saat ini diketahui sedang melakukan rekrutmen tenaga operator RTGC. Namun sebagai pemberi jasa, JICT tidak menjadi penentu dalam rekrutmen karyawan di MTI.
“Keputusan rekrutmen tentunya ada di manajemen MTI. Tapi kami yakin setiap orang yang memiliki kualitas dan integritas kerja yang baik akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan,” tegasnya.

Wadirut JICT: Pelayanan Bongkar Muat Membaik?

IMG-20180119-WA0002-600x400

Wakil Dirut PT Jakarta International Container Terminal (JICT) Riza Erivan mengatakan kinerja bongkar muat petikemas di terminal tersebut saat ini mulai membaik dengan Gross Container Rate (GCR) rata rata 20 box/jam.

Selain itu pemindahan bongkar kapal ke terminal lain (double berthing) sudah tidak ada lagi. “Sekarang baik bongkar barang impor mau pun muat barang ekspor sudah dilakukan di JICT. Pemindahan bongkar kapal yang bersifat sementara,” katanya menjawab BeritaTrans. com Jumat (19/1 /2018).

Sementara sebuah sumber menyebutkan membaiknya angka produktivitas bongkar muat JICT atau Gross/Container /Rate (GCR) tidak murni tapi karena disiasati dengan memindahkan kapal bongkar di terminal lain.

Kapal tersebut hanya memuat barang ekspor di JICT sehinggga kinerja bongkar muat terlihat membaik. Tapi merugikan JICT dari pendapatan CHC dan storage, tutur sumber terdebut

Dengan alasan kongesti di lapangan dan dermaga, JICT memindahkan kapal untuk bongkar di MAL dan TPK Koja, ujarnya.

Hal ini bertujuan untuk meminimalisir dampak kinerja rendah vendor baru JICT yakni Multi Tally Indonesia (MTI).

Karena jika JICT hanya menangani ekspor, otomatis produktivitas (GCR) dapat ditingkatkan optimal dan aktivitas lapangan penumpukan oleh vendor baru tidak terlalu sibuk.

Padahal fungsi pelabuhan petikemas sejatinya menangani ekspor dan impor. Namun atas nama pembelaan terhadap vendor baru hal ini dilakukan manajemen JICT, katanya.

Simber tadi menyebut fakta lapangan kapal yang bongkar di terminal lain antaranya:

Pelayaran SITC melihat low performace JICT memutuskan sandar di MAL agar schedul tidak rusak

CMA CGM tidak dapat tempat karena sudah delay 3 hari, KMTC ingin di TPK Koja atau JICT yang penting kapal berthing on arrival.

Heung A cenderung antisipasi tempat bongkar agar lebih cepat sandar guna minimalisir dampak delay, ujar sumber tersebut.

Ditanya berapa lama 40 tenaga operator RTGC bantuan Pelindo II ditugaskan di JICT? Riza mengatakan
sekitar 3 bulan.

Tenaga bantuan dari Pelondo II ini bertugas untuk melatih operator RTGC MTI.

Ditanya adanya tenaga bantuan ini kan tidak sesuai dengan isi kontrak JICT- MTI apa akan minta kompensasi? nanti pasti kita bicarakan dengan PT MTI. Sekarang fokus memperbaiki layanan dulu, kata Riza.

Menanggapi ini sumber tadi mengatakan solusi terbaik mestinya manajemen JICT melakukan evaluasi terhadap kinerja MTI.

Jika diperlukan, manajemen JICT dapat memilih vendor yang lebih profesional melalui tender yang transparan dan profesional, katanya.

http://beritatrans.com/2018/01/19/wadirut-jict-pelayanan-bongkar-muat-membaik/

Penghargaan Untuk JICT

 

Penghargaan Untuk JICT

JICT mendapat penghargaan emas untuk kategori “Creative Competition Strategy” dalam ajang BUMN Branding & Marketing Award 2017.

Penghargaan ini, diinisiasi BUMN Track bekerja sama dengan Rumah Perubahan dan Arbey Consulting. Selain JICT, beberapa BUMN dan anak perusahaannya, juga turut mendapatkan penghargaan serupa.

Dari 103 peserta, 70 perusahaan yang terdiri dari 40 BUMN dan 30 anak perusahaannya lolos penjurian tahap kedua untuk wawancara dan pendalaman materi di hadapan dewan juri.

Presiden Direktur JICT, Gunta Prabawa, menyampaikan, perusahaan berupaya untuk selalu inovatif dalam menghadapi ketatnya persaingan bisnis pelabuhan.

“Kami tentu bangga dengan penghargaan ini. Selain itu, JICT menyadari pentingnya menciptakan strategi bisnis baru yang lebih kreatif namun tetap memperhatikan kebutuhan dan kepuasan pelanggan,” ujar Gunta dalam keterangannya, Selasa (19/12).

Gunta menegaskan, untuk ke depan JICT akan terus bersinergi dengan beberapa BUMN guna memenuhi ekspektasi pengguna jasa pelabuhan.

“Kami harus selalu bersiap diri untuk lebih cermat membaca kebutuhan pasar,” kata Gunta.

>>SUMBER<<

JICT Komit Perbaiki Pendidikan di Jakut

JICT Komit Perbaiki Pendidikan di Jakut

Manajemen Jakarta International Container (JICT) berkomitmen bakal terus memperbaiki fasilitas belajar mengajar, termasuk sarana kegiatan belajar mengajar sekolah-sekolah di Jakarta Utara.

Hal itu disampaikan jajaran Direksi bersama tim CSR saat mengunjungi sekolah ‘hijau’ binaan JICT, ‘Green Dock School As Shidiq’, di Plumpang, Jakarta Utara dalam rangka HUT perusahaan yang ke-19, baru-baru ini.

Green dock school merupakan program CSR JICT yang bertujuan untuk merenovasi sekolah, perpustakaan, pengadaan lab komputer dan bahasa inggris serta kurikulum seputar gerakan hijau global.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh seluruh peserta program CSR pendidikan JICT, seperti siswa dan guru dari 15 PAUD binaan Jakarta Utara dan juga Rumah Belajar (RumBel).

Wakil Direktur JICT, Riza Erivan mengapresiasi tim CSR JICT lantaran telah sigap serta berkomitmen untuk memperbaiki fasilitas pendidikan di sekolah-sejolah Jakarta Utara.

“Dalam rangka HUT JICT ke-19, Kami sengaja meninjau sekolah hijau binaan, untuk memperbaiki sekolah-sekolah, mulai dari fasilitas sampai kebutuhan sarana kegiatan belajar mengajar. Visi CSR kita jelas, masyarakat Jakarta Utara harus berdaya,” kata Riza dalam surat elektronik yang diterima redaksi, Minggu (8/4).

Dalam kegiatan ini, Direksi JICT bersama para peserta CSR bidang pendidikan melepaskan balon merah putih sebagai simbol tema HUT, ‘JICT For Indonesia’.

Riza menegaskan, pihaknya akan terus memantau program-program CSR agar dapat berjalan konsisten dan memberikan dampak positif terutama untuk masyarakat  Jakarta Utara.

“Kita akan pantau terus. Program CSR ini konsisten dijalankan perusahaan. Keberadaan JICT harus berdampak langsung kepada komunitas dan masyarakat terutama di Jakarta Utara,” tandasnya. >>SUMBER<<

Satu Kata Buat Kepedulian JICT ke Pendidikan: Wow!

 

Ternyata selain fokus pada kualitas kinerja dan pelayanan yang optimal serta memperhatikan kesejahteraan pegawainya, PT Jakarta International Container Terminal (JICT) juga punya kepedulian sosial yang besar lho.

Jadi, bukan mentang-mentang sebagai perusahaan yang memfasiltasi bongkar muat peti kemas, JICT cuek aja sama sekitarnya. Apalagi nih sebagai pelabuhan bongkar muat peti kemas terbesar dan tersibuk di Tanah Air.

(baca:http://nusantara.rmol.co/…/Satu-Kapal-Baru-Sandar-Di-Pelabu…)

Terus apa buktinya?

Ini lho buktinya; sejak tahun 2009, JICT udah amat peduli sama yang namanya kemajuan pendidikan. JICT membangun rumah belajar bakal anak-anak yang nggak bisa lanjutin sekolahnya. Tempatnya dinamakan Dock School.

Dampaknya, ada sekitar 15 ribu masyarakat di Jakata Utara, terutama anak putus sekolah, yang bisa merasakan manfaat rumah belajar dari JICT (www.ekbis.sindonews.com).

Terus pada tahun 2016, JICT ikut mendorong kemajuan 15 sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jakarta Utara, tepatnya di wilayah Koja, Cilincing dan Tanjung Priok. JICT memberikan bantuan alat peraga edukatif dan kegiatan lainnya seperti story telling serta program pendamping lainnya (sumber: http://www.poskotanews.com).

Sekarang ketahuan deh kalau JICT punya perhatian gede ke sektor pendidikan. Nggak selesai begitu aja, kepedulian JICT pada pendidikan Indonesia terus bergerak. Akhir tahun 2017, JICT kembali memberikan bantuan sarana bermain serta belajar yang lebih lengkap untuk sejumlah PAUD tersebut.

Akhirnya, selain kebutuhan alat pendidikan lengkap, sejumlah PAUD binaan JICT juga didukung fasilitas bermain luar ruangan yang layak dan pembatas kelas menjadi menarik sehingga anak-anak semangat belajar.

Kalau dicermati sih, kepedulian JICT ke sektor pendidikan beralasan jelas banget. Pendidikan khan hak semua warga, setiap orang punya kesempatan yang sama bakal jadi pintar. Dijamin konstitusi lho.

Nah amanat konstitusi itu yang JICT lakukan. Jadi klop banget, udah jaminan layanan ke konsumen memuaskan, pegawai sejahtera, care juga dengan cita-cita dan masa depan anak-anak yang cerah.

Kalau begini, apa masih mau diganggu?*